Senin, 18 April 2011

MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS XI IPS 2 SMAN 4 BARABAI MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE TAHUN PELAJARAN 2010/2011


MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS XI IPS 2 SMAN 4 BARABAI MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

I.                         Latar Belakang
Undang – undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus – menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. (Trianto, 2010)
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, maka pemerintah formal, pendidikan non-formal maupun pendidikan formal. Jalur pendidikan formal diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta melalui Sekolah Dasar atau sederajat, Sekolah Menengah Pertama atau Sederajat, Sekolah Menengah Atas atau Sederajat, dan Perguruan Tinggi.
Berbagai mata pelajaran yang diberikan pada pendidikan formal, salah satunya adalah mata pelajaran matematika yang diberikan pada setiap jenjang pendidikan. Matematika merupakan alat yang efisien dan diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan. Agar matematika itu sendiri berguna bagi kehidupan siswa maka proses pembelajaran matematika harus diperhatikan oleh seorang guru.
Berdasarkan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika SMAN 4 Barabai dari pengalaman tahun lalu masalah yang dihadapi kelas XI IPS cukup banyak diantaranya kurangnya partisipasi siswa pada waktu belajar mengajar berlangsung, itu dilihat pada saat pelajaran matematika berlangsung siswa yang aktif itu – itu saja, siswa yang lain hanya duduk diam . Hal ini dikarenakan oleh banyak faktor, baik faktor dari siswa itu sendiri maupun dari guru itu sendiri. Akhirnya tujuan pembelajaran yang diharapkan belum dapat tercapai secara optimal.
Dilihat dari permasalahan diatas diperlukan suatu pendekatan yang dapat digunakan agar pembelajaran dapat dipahami dan disenangi juga partisipasi siswa dalam belajar mengajar berjalan.
Dilihat dari uraian diatas maka peneliti ingin memberikan suatu alternatif dalam mengatasi permasalahan tersebut, sebagai alternatif adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Model pembelajaran kooperatif menjadi pilihan peneliti karena menurut Ibrahim dkk(2000) model pembelajaran ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep sulit, menumbuhkan kemampuan siswa bekerjasama, berfikir kritis, dan kemampuan membantu teman. Keunggulan lain dari pembelajaran kooperatif optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2008).
Tipe dari model pembelajaran kooperatif yang dipilih oleh peneliti dan pengajar adalah think-pair-share, teknik ini bias digunakan digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkat usia anak didik (Lie,2008). Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “MENINGKATKAN PARTISIPASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS XI IPS 2 SMAN 4 BARABAI MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE TAHUN PELAJARAN 2010/2011”.





II.                      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut:
1.      Apakah model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share dapat meningkatkan partisipasi siswa belajar matematika?
2.      Bagaiman respon siswa terhadap proses belajar mengajar dengan menggunakan model kooperatif tipe think-pair-share?

III.                   Batasan Masalah
Agar penelitian dapat dilakukan secara lebih mudah maka permasalahan dapat dibatasi sebagai berikut :
1.      Siswa yang diteliti adalah siswa kelas XI IPS 2 semester II SMAN 4 Barabai.
2.      Penelitian dilakukan pada materi Komposisi Fungsi dengan menggunakan model pem,belajaran kooperatif tipe think-pair-share.

IV.                   Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1.      Meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika di kelas XI IPS 2 SMAN 4 Barabai melalui pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share.
2.      Respon siswa terhadap proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share.

V.                      Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat antara lain:
1.            Sebagai bahan masukan dan informasi bagi pihak sekolah.
2.            Sebagai pertimbangan dan alternatif pilihan bagi guru dalam mengajar matematika dengan menggunakan model kooperatif tipe think-pair-share dalam pembelajaran.
3.            Motifasi dan informasi bagi siswa tentang model kooperatif tipe think-pair-share.

VI.                   Anggapan Dasar
Dalam penelitian ini, peneliti mengasumsikan bahwa:
1.      Setiap siswa memiliki kemampuan dasar, tingkat perkembangan intelektual dan usia yang relatif sama.
2.      Alat evaluasi yang dipakai memenuhi kreteria alat ukur yang baik.
3.      Guru pengajar matematika di SMAN 4 Barabai belum pernah menggunakan model kooperatif tipe think-pair-share pada pengajaran sebelumnya.
4.      Semua siswa memperoleh informasi yang sama terhadap materi komposisi fungsi dengan kooperatif tipe think-pair-share.

VII.                Tinjauan Pustaka
1.1              Proses Belajar
Belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan, ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan tergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami siswa sebagai peserta didik.
Menurut Hamalik (2008) belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari pada itu, yakni mengalami. Menurut Slameto (Djamarah, 2008) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Menurut Kingskey (Djamarah, 2008) belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan.
Menurut teori behavioristik (Budiningsih, 2008 ) belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut Slameto (2010) belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan response yang diharapkan.
Menurut Djamarah (2008) belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seseorang (peserta didik) mempelajari sesuatu kemampuan atau nilai yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar. Diharapkan suatu pembelajaran dapat menimbulkan perolehan siswa sebagai hasil belajar.

1.2              Hasil Belajar
Hasil belajar adalah nilai yang diperoleh oleh siswa pada mata pelajaran tertentu dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melakukan tugas yang diberikan kepadanya. Hasil belajar yang telah dicapai ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, ditunjukan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru.
Menurut Slameto (2003) factor – factor yang mempengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1)      Faktor intern, yaitu factor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, antara lain:
a.   factor jasmaniah, meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh,
b. faktor psikologis, meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan dan kesiapan belajar,
c.   faktor kelelahan, meliputi kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis)
2)      Faktor eksteren, yaitu faktor yang ada diluar individu, antara lain:
a.   faktor keluarga, meliputi cara orang tua mendidik anak, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah. Keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan,
b.   faktor sekolah, meliputi cara metode mengajar, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung dan tugas rumah.
c.   faktor masyarakat, meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
Menurut Djamarah, (2003) perubahan yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan oleh individu. Perubahan itu adalah hasil yang telah dicapai dari proses belajar. Jadi, untuk mendapatkan hasil belajar dalam bentuk “perubahan” harus melalui proses tertentu yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri individu dan di luar individu. Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu:
1.      Faktor lingkungan, faktor yang meliputi lingkungan alami, dan lingkungan social budaya.
2.      Faktor instrumental, meliputi kurikulum, program, motivasi, dan kemampuan kognitif.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa adalah hasil yang telah dicapai siswa setelah melakukan usaha atau belajar. Prestasi belajar matematika adalah hasil belajar matematika aspek kognitif yang dinyatakan dalam nilai atau skor setelah siswa mengikuti pelajaran matematika.
1.3              Belajar Matematika
Para ahli konstruktivisme mengatakan bahwa dari perspektifnya konstruktifitas, belajar matematika bukanlah suatu proses “pengepakan” pengetahuan secara hati – hati, melainkan hal mengorganisir aktivitas, di mana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas termasuk aktifitas dan berfikir konseptual. Didefinisikan oleh Cobb (1992) bahwa belajar matematika merupakan proses dimana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika.
Para ahli konstruktivitas setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan baku hanya bilangan dan rumusan – rumusan saja. Mereka menolak paham bahwa matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpula linear. Menurut konstruktivitas bahwa secara substantif, belajar matematika adalah proses pemecahan masalah.
1.4       Pengajaran Matematika di Sekolah Menengah Atas
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Dengan demikian maka setiap upaya penyusunan kembali atau penyempurnaan kurikulum matematika sekolah perlu selalu mempertimbangkan pengalaman masa lalu, serta kemungkinan masa depan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar dan Pendidikan menengah. Tujuan umum dan tujuan khusus yang dilaksanakan di pengajaran matematika Sekolah Menengah Atas tercantum dalam GBPP(Depdikbud, 1995:1). Adapun tujuan umumnya adalah:
1.      Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, jujur, efiktif, dan efisien.
2.      Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola piker matematika dalam kehidupan sehari – hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, tujuan umum pendidikan matematika pada jenjang pendidikan menengah tersebut memberi tekanan pada penataan nalar, dasar dan pembentukan sikap siswa serta dengan memberi tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika. Selanjutnya tujuan khusus pengajaran matematika di Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah:
1.      Siswa memiliki pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi.
2.      Siswa memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan matematika pendidikan dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan yang lebih luas (didunia kerja) maupun dalam kehidupan sehari – hari.
3.      Siswa mempunyai pandangan yang lebih luas serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika, sikap kritis, logis, objektif, terbuka, kreatif, sertainovatif.
4.      Siswa memiliki kemampuan yang dapat dialihgunakan (transferable) melalui kegiatan matematika di SMA.

1.5       Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut ibrahim dkk (2000) pembelajaran koopertif adalah unik, karena pembelajaran kooperatif suatu struktur tugas dan penghargaan yang berbeda dalam mengupayakan pembelajaran siswa. Struktur tugas itu menghendaki siswa untuk bekerja bersama dalam kelompok – kelompok kecil. Struktur penghargaan itu mengakui upaya kolektif dan individual. Model kooperatif memfukuskan pada pengaruh – pengaruh pengajaran selain pembelajaran akademik, khususnya menumbuhkan penerimaan antara kelompok serta keterampilan social dan kelompok.

1.6       Unsur – unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Unsur – unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Ibrahim dkk, 2000)
1.      Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan bersama”.
2.      Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3.      Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4.      Siswa haruslah berbagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota – anggota kelompoknya.
5.      Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6.      Siswa sebagai kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proseas belajarnya.
7.      Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani didalam kelompok kooperatif.
  Adapun model – model pembelajaran (Suyatno, 2009) antara lain adalah sebagai berikut:
1.      STAD ( Students Team Achievement Divisions)
2.      NHT ( Numberid Head Togedher)
3.      Jigsaw
4.      TPS (Think Pair Share)
5.      TGT (Team games Tournament)
6.      GI (Group Investigation)
7.      CTL (Contextual Teaching and Learning)
8.      TAI (Team Assisted Individualy)
9.      PBI (Problem Based Instuction)
10.  RME (Realistic Mathematics Education)
11.  Problem Posing
12.  Open Ended
13.  Probing-Prompting
14.  Cycle Learning
15.  Receprocal Teaching
16.  SAVI (Somatic Auditory Visualization Intellectualy)
17.  VAK (Visualization Auditor Kinestic)
18.  dan laun – lain.

Tabel 1 Langkah – langkah pembelajaran kooperatif
Fase ke-
Indikator
Kegiatan Guru
1
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau lewat bacaan
3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok – kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok – kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajariatau masing – masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok
(Ibrahim dkk, 2000)

1.7              Model Pembelajaran Think Pair Share
Teknik belajar mengajar Berpikir-Berpasangan-Berempat dikembangkan oleh Frank Lyman (Think-Pair-Share) dan Spencer Kagan(Think-Pair-Square) sebagai struktur kegiatan pembelajaran Cooperative Learning. Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik berpikir-berpasangan-berempat ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukan partisipasi mereka kepada orang lain. Teknik ini bias digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkat usia anak didik.(Lie, 2008)
 Langkah – langkah pembelajaran Think-Pair-Share adalah sebagai berikut:
  1. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
  2. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
  3. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
  4. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membegikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

1.8              Pembelajaran Matematika di SMA
Ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SMA berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu Logika, Aljabar, Geometri, Trigonometri, Kalkulus, Statistika dan Peluang. Adapun materi pokok yang diajarkan di kelas XI semester 2 adalah antara lain:

Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers
A. Aturan Komposisi dari Beberapa Fungsi
1.      Fungsi Pemetaan
2.      Beberapa Fungsi Khusus
3.      Sifat Fungsi
4.      Komposisi Fungsi
5.      Menentukan Komposisi dua Fungsi atau lebih
6.      Aljabar Fungsi
B. Nilai Fungsi Komposisi
C. Menentukan Komponen Pembentuk Fungsi Komposisi
D. Syarat agar suatu Fungsi Mempunyai Invers
1.      Pengertian Invers suatu Fungsi
2.      Syarat agar Invers Suatu Fungsi merupakan Fungsi (Fungsi Invers)
3.      Menentukan Dominan dan Kodomain Suatu Fungsi yang diketahui agar Fungsi tersebut Mempunyai Invers
E. Aturan Fungsi Invers dari Suatu Fungsi
1.      Menentukan Rumus Fungsi Invers
2.      Menentukan Fungsi Invers dari Fungsi Komposisi
F. Menggambarkan Grafik Fungsi Invers dari Grafik Fungsi Asalnya
G. Sifat Fungsi Invers Dikaitkan dengan Fungsi Komposisi
1.      Sifat Fungsi Invers dari Fungsi Komposisi
2.      Menentukan Fungsi Invers dengan menggunakan Sifat

VIII.       Metode Penelitian
2.1       Rancangan Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), kata ketiga yaitu “Kelas” yang menunjukan keterangan oleh siapa tindakan dilaksanakan, tidak mempunyai makna mengikat. Dalam bukunya “Penelitian Tindakan”, Arikunto. Penelitian model ini dapat dilakukan bukan hanya terbatas di kelas saja, tetapi dapat di sekolah, di lapangan, di bengkel, atau ditempat – tempat lain, asal sesuai dengan bidang tugasnya. Nama PTK digunakan karena dimulai dalam bidang pendidikan, sudah terlanjur popular,. Kegiatan tersebut memang pertama kali muncul dengan maksud untuk memperbaiki situasi pembelajaran dikelas, yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan. (Arikonto, 2010).
Menurut Suharsimi (Asrori, 2008) mendefinisikan penelitian tindakan kelas melalui paparan gabungan definisi dari kata “penelitian,” ”tindakan,” dan “kelas”. Penelitian adalah kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan adalah suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan. Kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama oleh guru.
Beberapa  persyaratan kegiatan supaya dapat dikatagorekan sebagai penelitian tindakan adalah:
  1. Kegiatan yang dilakukan melalui PTK, harus tertuju pada peningkatan mutu siswa. Jadi sasarannya, kalau kegiatan itu menyangkut pembelajaran, harus siswa yang ditunjukan keaktifannya.
  2. Tindakan tersebut harus dapat dilihat dalam unjuk kerja siswa secara kongrit. Dengan kata lain, siswa harus melakukan sesuatu, mungkin menyangkut fisik dan mental, karena yang dapat diamati dari luar adalah kegiatan fisik, yang tentu saja dilandasi oleh kegiatan mental.
  3. Jika yang dipandang sebagai kelas adalah seluruh siswa di kelas, maka subjek pelaku bukan perseorangan tetapi klasikal, siswa seluruh kelas, sehingga tidak ada siswa yang bibas dari tindakan.
  4. Pemberian tindakan harus dilakukan sendiri oleh guru yang bersangkutan, tidak boleh meminta bantuan orang lain.
  5. Penelitian berlangsung dalam siklus, dan oleh karena itu penelitian tindakan dapat disebut sebagai penelitian eksperimen berkesinambungan, karena prosesnya diulang – ulang.
  6. Penelitian tindakan bukan berbicara tentang materi, tetapi tentang cara, prosedur, atau metode.
  7. TIndakan yang dilakukan oleh guru harus baru, berbeda dari biasanya.
  8. Tindakan yang diberikan oleh guru bukan bersifat teoretik, tetapi berpijak dari kondisi yang ada.
  9. Tindakan yang diberikan oleh guru kepada siswa tidak boleh diterima sebagai paksaan, tetapi sudah merupakan kesepakatan bersama antara guru dengan siswa.
  10. Ketika tindakan berlangsung, ada pengamatan secara sistematis yang dilakukan oleh guru peneliti sendiri atau pihak lain yang dimintai bantuan.
  11. Jika peneliti menginginkan peningkatan hasil dari adanya tindakan, maka perlu ada evaluasi terhadap hasil sebagai konsekoinsi dari proses yang dicobakandengan menggunakan instromen yang relevan.
  12. Ada evaluasi terhadap hasil sebagai konsekuensi dari proses yang dicobakan, dengan menggunakan instromenyang relevan. Sesudah data mengenai hasil terkumpul, peneliti boleh saja menggunakan rumus – rumus statistik untuk mengolahnya.
  13. Keberhasilan tindakan dibahas dalam kegiatan refleksi, yaitu suatu perenungan bersama tentang masa lalu, yaitu mengenai tindakan yang sudah dilaksanakan.

Tujuan penelitian tindakan kelas
Tujuan penelitian tindakan kelas yaitu meningkatkan subjek tindakan dengan tambahan kemampuan.
Manfaat penelitian tindakan yaitu:
1.            Peneliti sendiri
2.            Siswa atau siapa saja yang sudah mengalami menjadi subjek tindakan
3.            Pihak sekolah
4.            Dunia pengetahuan

2.1.1        Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah Guru dan siswa kelas XI IPS 2 SMAN 4 Barabai tahun pelajaran 2010/2011. Objek penelitian ini adalah partisipasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika kelas XI IPS 2 SMAN 4 Barabai tahun pelajaran 2010/2011 pada pokok bahasan fungsi komposisi.

2.1.2        Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMAN 4 Barabai beralamat di Jl. Surapati Banua Jingah kecamatan Barabai kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dengan beberapa pertimbangan, waktu pelaksanaan penelitian sampai pada pembuatan laporan penelitian berlangsung kurang lebih 3 bulan, yaitu dari bulan Januari sampai Maret 2011. Dengan kegiatan sebanyak 6 kali pertemuan, dengan 2 kali siklus di mana siklus I terdiri dari 2 kali kegiatan belajar dan 1 kali tes evaluasi dan siklus II terdiri dari 2 kali kegiatan belajar dan 1 kali tes evaluasi.

2.1.3        Rancangan Tindakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dirancangterdiri atas 2 siklus namun jika siklus pertama sudah mencapai indicator keberhasilan maka penelitian dihentikan sebaliknya jika siklus masih belum berhasil, maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya. Siklus pertama dilaksanakan 3 kali pertemuan yaitu 6 jam pelajaran, siklus ke dua 3 kali pertemuan yaitu 6 jam pelajaran. Jadi untuk menyelesaikan penelitian memerlukan waktu 12 jam pelajaran atau 6 kali pertemuan.

Siklus I
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I ini dilakukan tahapan – tahapan sebagai berikut:
1.   Tahap perencanaan
Tahap perencanaan ini meliputi
a.       Membuat rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran materi menentukan komposisi fungsi dari dua fungsi.
b.      Menyusun Lembar Evaluasi (Prates dan Postest) dan Lembar Kerja Kelompok (LKK) serta Lembar Evaluasi Akhir Siklus.
c.       Menyimpan lembar observasi guru dan siswa untuk melihat bagaimana proses pembelajaran berlangsung.
d.      Menyiapkan alat bantu pembelajaran (caption, dan alat peraga).
2.   Tahap pelaksanaan tindakan
Pembelajaran dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan, dengan waktu pertemuan 6 x 45 menit. Adapun tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut:
a.   Menjalankan skenario pembelajaran
Kegiatan yang dilakukan dalam skenario pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.            Di awal pertemuan pertama guru menjelaskan tentang model pembelajaran yang digunakan.
2.            Guru melakukan apersepsi agar siswa tertarik dengan pelajaran yang akan diteliti.
3.            Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
4.            Guru menyampaikan materi pelajaran secara singkat.
5.            Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
6.            Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
7.            Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
8.            Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat dan menyampaikan hasil kerjanya kepada anggota kelompok.
9.            Guru menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.
b.   Melaksanakan Evaluasi hasil Belajar
Pelaksanaan evaluasi hasil belajar , soal yang disajikan berbentuk uraian dan jumlah soal yang harus dikerjakan sebanyak 5 butir soal. Waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal sebanyak 60 menit, pelaksanaan dilaksanakan di akhir siklus.
3.   Obserfasi
Obserfasi dilaksanakan (diamati) oleh peneliti terhadap guru bidang studi matematika dan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
4.   Tahap Refleksi
Setelah data diperoleh dan dievaluasi, guru menganalisis data tersebut. Peneliti dapat merefleksikan dengan melihat data obserfasi sejauh mana kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam pelajaran materi Menentukan fungsi komposisi dari dua fungsi, hasil analisi data akan dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus II.

Siklus II
Penelitian tindakan kelas siklus II dilaksanakan apabila hasil refleksi pada pelaksanaan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang harapkan. Pelaksanaan tindakan kelas pada siklus II ini dilakukan tahapan – tahapan sebagai berikut:
1.   Tahap perencanaan
Tahap perencanaan ini meliputi
a.       Membuat rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran materi menentukan komposisi fungsi dari dua fungsi.
b.      Menyusun Lembar Evaluasi (Prates dan Postest) dan Lembar Kerja Kelompok (LKK) serta Lembar Evaluasi Akhir Siklus.
c.       Menyimpan lembar observasi guru dan siswa untuk melihat bagaimana proses pembelajaran berlangsung.
d.      Menyiapkan alat bantu pembelajaran (caption, dan alat peraga).
2.   Tahap pelaksanaan tindakan
Pembelajaran dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan, dengan waktu pertemuan 6 x 45 menit. Adapun tahap pelaksanaan adalah sebagai berikut:
a.   Menjalankan skenario pembelajaran
Kegiatan yang dilakukan dalam skenario pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Guru melakukan apersepsi agar siswa tertarik dengan pelajaran yang akan dipelajari.
2.      Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
3.      Guru menyampaikan materi pelajaran secara singkat.
4.      Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
5.            Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
6.            Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
7.            Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat dan menyampaikan hasil kerjanya kepada anggota kelompok.
8.            Guru menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari.
b.   Melaksanakan Evaluasi hasil Belajar
Pelaksanaan evaluasi hasil belajar , soal yang disajikan berbentuk uraian dan jumlah soal yang harus dikerjakan sebanyak 5 butir soal. Waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal sebanyak 60 menit, pelaksanaan dilaksanakan di akhir siklus.
3.   Obserfasi
Obserfasi dilaksanakan (diamati) oleh peneliti terhadap guru bidang studi matematika dan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
4.   Tahap Refleksi
Setelah data diperoleh dan dievaluasi, guru menganalisis data tersebut. Peneliti dapat merefleksikan dengan melihat data obserfasi sejauh mana kegiatan yang dilakukan dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam pelajaran materi Menentukan fungsi komposisi dari dua fungsi, hasil analisi data akan dipergunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus selanjutnya.
2.2       Teknik Pengumpulan Data
            Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik (1) documenter, istilah dokumenter atau dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Alat pengumpul datanya disebut form dokumen atau form pencatatan dokumen. Sedangkan sumber datanya berupa catatan atau dokumen. Metode dokumenter dengan demikian berarti upaya pengumpulan data dengan menyelidiki benda-benda tertulis. Benda tertulis tersebut dapat berupa catatan resmi seperti buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, dan lain-lainnya, atau catatan tidak resmi, berupa catatan ekspresif seperti catatan harian, bibliografi dan lain sebagainya. (2) catatan lapangan, (3) wawancara langsung.
Untuk pelengkap teknik pengumpulan data juga dilakukan menggunakan
 Tes, Teknik tes dilakukan dengan memberikan tes hasil belajar siswa yaitu evaluasi di akhir siklus. Dalam penelitian ini soal yang digunakan bentuk uraian. Siklus I terdiri dari 5 soal yang masing – masing memperoleh nilai 20, siklus II terdiri dari 5 soal yang masing – masing juga memperoleh nilai 20.
2.2      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah partisipasi belajar matematika siswa dengan model kooperatif tipe think-pair-share yang dapat dilihat dari peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika setelah mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe think-pair-share, dilihat dari:
1.      partisipasi siswa dalam mengajukan pertanyaan sebelum tindakan dan sesudah tindakan
2.      siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan di depan kelas sebelum tindakan dan sesudah tindakan
3.      partisipasi siswa dalam mengemukakan ide atau pendapat sebelum tindakan dan sesudah tindakan
4.      partisipasi siswa dalam menjawab pertanyaan sebelum tindakan dan sesudah tindakan
5.      partisipasi siswa dalam menyanggah atau menyetujui ide teman sebelum tindakan dan sesudah tindakan naik
Selain itu teknik analisi data juga ditambah dengan tekhnik presentase sebelum dan sesudah tindakan dilakukan, dengan penghitungan sebagai berikut:
Untuk menghitung nilai rata – rata hasil tes, digunakan rumus sebagai berikut (Sudijono, 2010):
Keterangan :
 = Mean yang kita cari
 = Jumlah dari skor – skor (nilai – nilai) yang ada
N = Number of Cases ( Banyaknya skor – skor itu sendiri)

Untuk mempresentasikan hasil nilai siswa digunakan rumus sebagai berikut (Sodijono, 2010) :
P =
Keterangan :
P = Angka persentasi
f = frekuensi yang sedang dicari
N = Banyaknya responden

Tabel 2. Kreteria pengelompokan berdasarkan taraf penguasaan siswa
No
Nilai
Penghargaan
1
2
3
4
5
6
≥95,0
80,0-94,9
65,0-79,9
55,0-64,9
40,1-54,9
≤40,0
Istimewa
Amat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Amat Kurang

(diadaptasi dari Tim Dinas Pendidikan Propinsi Kalsel,2004)

2.3          Indikator Keberhasilan
Untuk menentukan keberhasilan dari penelitian ini apabila adanya peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan metode kooperatif tipe think-pair-share. Ditambah dengan kreteria ketuntasan belajar yang ditetapkan oleh pihak sekolah tempat penelitian. Berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi matematika kreteria ketuntasan belajar sebagai berikut
1.   Daya serap individual
      Siswa dikatakan tuntas apabila mencapai skor ≥60 dari skor maksimal 100.
2.   Daya serap klasikal
      Suatu kelas dikatakan tuntas apabila minimal 75% dari siswa di kelas mencapai skor ≥ 60.

DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie, 2008. Cooperative Learning. Grasindo. Jakarta

Ibrahim dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. University Press. Surabaya

Trianto, 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta

Oemar Hamalik, 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. PT Bumi Karsa. Jakarta

Slameto, 2010. Belajar dan Faktor – faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta. Jakarta

Syamsul Bahri Djamariah, 2008. Rineka Cipta. Jakarta

Suyatno, 2009. Menjelajah Seratus Pembelajaran Inovatif. Masmedia Buana Pustaka. Sidoarjo

Asri Budiningsih, . Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta

Suharsimi Arikunto, 2010. Penelitian Tindakan untuk Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas. Aditya Media. Jakarta

Mohammad Asrori,2008. Penelitian Tindakan Kelas. CV Wacana Prima. Bandung

MKBPM, 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung

Sodijono, 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta

http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2009/04/09/penerapan-pembelajaran-kooperatif-tipe-bercerita-berpasangan-pada-mata-pelajaran-bahasa-indonesia-di-kelas-vi-sekolah-dasar/, 27 Januari 2011)

Triwahyu, Septi. 2009. Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Square. Skripsi, Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang, (Online), (http://etd.eprints.ums.ac.id/8379/, 27 Januari 2011)

Trianto, 2010. Mendesaian Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Kencana. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar